Indonesia  adalah negara agraris, Indonesi telah mendeklarasikan diri sebagai poros maritim dunia

Rabu, 6 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia adalah negara agraris, Indonesi telah mendeklarasikan diri sebagai poros maritim dunia. Pada 2021, dengan 2,36 juta orang bekerja sebagai nelayan. Tetapi dengan pekerja sebanyak itu para petani masih miskin.

Tenaga melimpah tapi skill (keahlian tangkap)masih terbatas. Kehidupan ekonomi nelayan masih sangat miris karena dengan sumber daya yang melimpah, Indonesia didominasi nelayan kecil dan miskin yang terlihat dari dominasi kapal kecil di Indonesia.

Diperlukan kebijakan yang komprehensif untuk memutus mata rantai kemiskinan dan pekerjaan yang layak bagi pekerja di sektor perikanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BRIN berkolaborasi dengan International Labour Organization (ILO) melakukan *Kick Off Workshop Survei Kerja Layak di Sektor Perikanan di Indonesia*, pada Selasa, 5 Desember 2023 di Hotel Aone Jakarta, Jalan K.H. Wachid Hasyim, Kebon Sirih, Jakarta. Pada kesempatan ini Jurnalis Swarantara.id berkesempatan lakukan wawancacara dengan narasumber.”Kondisi nelayan di Indonesia lebih bagus dibandingkan dengan para nelayan Thailand atau dari negara lain. Karena Indonesia telah membentuk kerjasama antara KKP dan kementerian ketenagakerjaan”.

BACA JUGA :  Pangkalan TNI AL Bandung Gelar Syukuran Usai Terima Hibah Lahan Seluas 1,6 Ha Dari Pemprov Jabar

Pada saat ini kondisi para pelaut kita masih sangat terbatas dengan skill yang kebanykan nol, demikian humas BRIN menjelaskan. Mereka terpaksa bekerja di laut karena mereka benar-benar pencari kerja yang nol skil yang tidak punya keahlian. Yang penting kerja hingga ke laut pun ia jalani. Menjadi anak buah kapal (ABK).

“Kan inputnya itu bisa dari berbagai macam, terbatas tapi tetap bisa bekerja gitu. Karena inputnya yang berbagai macam tidak memenuhi bekerja di darat dengan skillnya yang terbatas akhirnya mereka ke laut pun juga tidak memiliki keahlian. Di laut mereka hanya benar-benar belajar dari seniornya secara langsung. Dari sini mereka tidak memahami aturan-aturan termasuk dalam penghasilan.” terangnya.

BACA JUGA :  Bakopam Sumut Gelar Sosialisasi Moderasi Beragama, Ketum : Menambah Ilmu Arti Kebhinekaan dan Keutuhan Bangsa

Ada dua skema pembayaran dari gaji dan bagi hasil buat para pekera laut ini. Dari bagi hasi dan gaji. Dari bagi hasil mereka memberikannya untuk ABK tidak transparan

Sementara dari gaji kadang-kadang dipotong untuk biaya makan dari Rp.30.000 dipotong Rp15.000 dari bagi-bagi hasil mereka tidak transparan jadi para pekerja tidak mengetahui berapa yang didapat dari bagi hasil itu Karena ketidaktahuan/ keterbatasan gaji tidak tahu, makan seadanya. Itulah maka kadang-kadang mereka disiksa mereka tidak tahu menuntut apa., humas BRIN menjelaskan.

Sementara ABK rtidak tahu arurannya. Mereka terima saja berapa misalnya dapat 1 ton mereka tidak tahu harganya dia terima saja satu upah dengan gaji saja.

Beberapa daerah sudah bagus mekanisme pengelolaannya.Karena sekarang sudah di era keterbukaan, tidak ada lagi sźmbunyi-sembunyi, penyekapan-penyekapan dan tdak ada kagi tenaga kerja yang disekap Makanya sekarang ILO juga sudah bisa masuk memantau Kementerian ketenagakerjaan juga sudah memantau. Awalnya ketenagakerjaan hanya memantau tenaga di darat sekarang sudah mulai masuk ke lautan, mulai memberi perlindungan kepada tenaga kerja di laut. Kapal Perikanan asing sudah dibatasi mulai zaman menteri Susi, jadi kondisi perikanan sudah mulai bagus

BACA JUGA :  Tahun Politik 2024, Jurnalis Sumut Berharap Kapoldasu Irjen Agung Dapat Turun ke Toga dan Tomas

“Jadi penangkapan ikan sudah mulai bagus walaupun ada kontroversi tetapi dikeloka dngan baik dan secara aman .

Sekarang mulai dengan mengarah pada PNPB( penerimaan negara bukan pajak)

Mudah-mudahan lancar, jadi pekerjaan di laut ini agak dinamis Pemerintah bekerjasama dan dapat bantuan dari ILO dan ada dana sering dari dari mengelola 40 pelabuhan

Hilbauan pemerintah, melalui Humas BRIN pada keĝiaran ini adalah,
*Dukung Pemerintah Rumuskan Kebijakan Perlindungan Pekerja di Sektor Perikanan, BRIN-ILO Lakukan Survei Kerja Layak*

Berita Terkait

Terjaring OTT KPK, Bupati Lombok Barat Dibawa ke Jakarta!
Aksi Damai Pemuda Batujai: Transparansi Proyek, Bansos, dan Pelayanan Desa Jadi Tuntutan
Kasta NTB Soroti Pengelolaan DBHCHT 2026, Desak Anggaran Berpihak pada Petani Tembakau
Kejaksaan Negeri Lombok Tengah Terus Benahi Potensi Pendapatan Daerah
Di Balik Video Viral Penangkapan Warga di Praya Barat Daya, Ini Penjelasan Kuasa Hukum
Rp3,1 Miliar Hasil Rampasan Koruptor Dikembalikan Kejari Lombok Tengah ke Kas Negara
Hak Sertifikasi Tak Kunjung Diberikan, Diintimidasi Saat Sampaikan Aspirasi! Nasib Guru PAI Loteng
Kejari Lombok Tengah Berhasil Lelang Aset Koruptor Rp2,66 Miliar
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 21:58 WIB

Terjaring OTT KPK, Bupati Lombok Barat Dibawa ke Jakarta!

Senin, 20 Juli 2026 - 20:16 WIB

Aksi Damai Pemuda Batujai: Transparansi Proyek, Bansos, dan Pelayanan Desa Jadi Tuntutan

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:25 WIB

Kasta NTB Soroti Pengelolaan DBHCHT 2026, Desak Anggaran Berpihak pada Petani Tembakau

Kamis, 2 Juli 2026 - 07:53 WIB

Kejaksaan Negeri Lombok Tengah Terus Benahi Potensi Pendapatan Daerah

Senin, 29 Juni 2026 - 14:10 WIB

Di Balik Video Viral Penangkapan Warga di Praya Barat Daya, Ini Penjelasan Kuasa Hukum

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:55 WIB

Rp3,1 Miliar Hasil Rampasan Koruptor Dikembalikan Kejari Lombok Tengah ke Kas Negara

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:38 WIB

Hak Sertifikasi Tak Kunjung Diberikan, Diintimidasi Saat Sampaikan Aspirasi! Nasib Guru PAI Loteng

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:47 WIB

Kejari Lombok Tengah Berhasil Lelang Aset Koruptor Rp2,66 Miliar

BERITA TERBARU

Sumber gambar: IG Prokopimlobar

Peristiwa

Terjaring OTT KPK, Bupati Lombok Barat Dibawa ke Jakarta!

Senin, 20 Jul 2026 - 21:58 WIB