Perempuan, di Antara Diplomator Ulung atau Alat Diplomasi

Senin, 12 Agustus 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NESIANEWS.COM – Jika berbicara tentang diplomasi figur simbolis diplomat itu sendiri selalu dikaitkan dengan sifat maskulinitas dan dunia laki-laki. Sesuatu yang berbeda ketika seorang diplomat tersebut adalah perempuan. Mengingat bahwa sistem patriarki di Indonesia masih ada dan bahkan isu feminisme di dunia internasional. Perempuan menjadi kaum yang rentan isu kesetaraan gender dibanding laki-laki. Sehingga, terlibat dalam bidang apapun, perempuan akan kerap mendapatkan tantangan yang berbeda atau bahkan lebih dibanding laki-laki. Terutama dalam hal diplomasi, baik dalam kegiatan organisasi, dunia peraktivisan atau bahkan profesional.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diplomasi sendiri memang berarti penyelenggaraan resmi hubungan antara satu negara dengan yang lainnya. Diplomasi juga dapat diartikan sebuah praktik dalam mempengaruhi keputusan dan perilaku dalam menjalin relasi dengan pihak lain, baik itu pemerintah asing atau organisasi insternasional, melalui sebuah dialog maupun negosiasi.

BACA JUGA :  Tiga Diduga Tersangka dan Barang Bukti Sabu 7,34 Kg Diringkus Polres Loteng

Tidak banyak perempuan menempati posisi diplomat Indonesia karena stereotip gender yang dibebankan kepadanya. Tapi setiap perempuan menurutku adalah diplomator ulung karena mempunyai karakteristik berupa sifat nurturing dan look into details yang sangat membantu proses pelaksanaan setiap tujuan diplomasi. Perempuan juga memiliki keunggulan dalam soft power diplomacy yang menggunakan pendekatan dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan masalah. Ini menjadi suatu kelebihan untuk pemimpin perempuan yang ingin melakukan lobby terhadap berbagai bidang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perempuan memberikan kontribusi yang kuat dalam praktik diplomasi. Kepekaan sosial hingga pemahaman tentang dinamika lintas budaya yang dimiliki perempuan menjadi sebuah keunikan dalam praktik diplomasi. Hal ini mengartikan bahwa perempuan mempunyai peran yang penting dalam setiap ruang untuk tugas diplomasi. Bukan saja dalam ruang politik tetapi juga dalam bisnis, organizer maupun organisasi.

BACA JUGA :  Siswa SMAN 1 Praya Sapta Amanto Raih Lencana Teladan Pramuka Nasional 2024

Namun, di sisi lain ketika ada perempuan dalam proses diplomasi tak jarang justru timbul anggapan negatif, seolah-olah perempuan hanya pelengkap. Di beberapa kegiatan contohnya dalam hal audiensi dengan instansi, perempuan di anggap ampuh untuk menarik minat kerjasama kedua belah pihak.

Kata-kata seperti, “senyumin aja” atau “kedipin aja” acapkali menjadi gurauan yang bisa mengekang perempuan untuk bertindak sama seperti laki-laki dalam hal diplomasi. Rasanya senyum adalah ibadah menjadi konotasi negatif dalam hal ini.

Selain itu keberadaan perempuan dalam beberapa bidang yang cukup intens untuk melakukan negosiasi dianggap minoritas sehingga menjadi point of view dalam setiap pertemuan. Tapi kategori sorotan ini justru hanya dari segi pandangan, bukan dari pemikiran. Perempuan dianggap mampu merayu hanya dengan matanya. Dianggap mampu memenangkan negosiasi hanya dengan ucapan salamnya.

BACA JUGA :  Bupati Loteng Siapkan Klinik Yatim dan Gratis Pengobatan Bagi Anak Yatim 

Hal ini menimbulkan persepsi bahwa perempuan hanyalah alat diplomasi untuk mewujudkan tujuan tertentu. Bukan dilihat dari ide yang diberikan dan ditawarkan tetapi dari paras, penampilan dan standard beauty yang diterapkan Indonesia.

Menjadi hal yang sulit untuk perempuan ketika memiliki karakteristik yang mampu menjadi diplomator ulung justru di kekang dengan anggapan harus bekerja dalam hal domestik. Tumbuh di negara yang masih penuh dengan isu kekerasan seksual, ketidaksetaraan gender dan sistem patriarki harus membuat perempuan bisa bertindak lebih dari anggapan yang ada. Jangan mau hanya menjadi pelengkap dalam suatu pertemuan, menuntut ruang dan memberikan ide adalah sebuah keharusan.

Ni Putu Virgi Eka Ayu Rasta

Ketua PD KMHDI NTB

Berita Terkait

Poltekpar Lombok Kebanjiran Pendaftar, Kuota Mahasiswa Baru Naik dari 360 Menjadi 560
Cegah Generasi Muda Terjerat Judol dan Pinjol Ilegal, Diskominfo Loteng Edukasi Siswa SMAN 1 Praya Barat Daya
Peduli Kondisi Pesantren di Tengah Polemik, Kasta NTB Beri Dukungan Moral untuk Santri
88 SMP Negeri di Lombok Tengah Ikuti Bimtek PPID
Bupati Pathul Bahri Buka MTQH XXXII Praya Timur, Dorong Lahirnya Generasi Qur’ani Berprestasi
Pemkab Lombok Tengah Lepas 955 Mahasiswa KKP UIN Mataram
Kembali Torehkan Prestasi, Lombok Tengah Juara Umum 1 MTQ XXXI NTB 2026
MTQ XXXI NTB di Lombok Tengah Layak Jadi Rujukan Penyelenggaraan Event Keagamaan
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:37 WIB

Poltekpar Lombok Kebanjiran Pendaftar, Kuota Mahasiswa Baru Naik dari 360 Menjadi 560

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:38 WIB

Peduli Kondisi Pesantren di Tengah Polemik, Kasta NTB Beri Dukungan Moral untuk Santri

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:55 WIB

88 SMP Negeri di Lombok Tengah Ikuti Bimtek PPID

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:31 WIB

Bupati Pathul Bahri Buka MTQH XXXII Praya Timur, Dorong Lahirnya Generasi Qur’ani Berprestasi

Kamis, 2 Juli 2026 - 07:32 WIB

Pemkab Lombok Tengah Lepas 955 Mahasiswa KKP UIN Mataram

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:58 WIB

Kembali Torehkan Prestasi, Lombok Tengah Juara Umum 1 MTQ XXXI NTB 2026

Senin, 15 Juni 2026 - 22:51 WIB

MTQ XXXI NTB di Lombok Tengah Layak Jadi Rujukan Penyelenggaraan Event Keagamaan

Senin, 15 Juni 2026 - 08:02 WIB

Sumbawa Barat Juara Fahmil Putra MTQ XXXI NTB

BERITA TERBARU